Tampilkan postingan dengan label kopi sangray. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi sangray. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Desember 2021

NGOPI TENTANG KESEHATAN MENTAL ( coffee morning )

            KURANGNYA PENGETAHUAN DAN BAHAYA ABAI PADA KESEHATAN MENTAL


Kesehatan mental adalah problem klasik yang menghinggapi masyarakat luas, tak mengenal status pendidikan, jabatan, dan wilayah, bisa menyerang siapa pun sebabnya beragam, bisa sebab trauma, pola didik, pola hidup, atau pun lingkungan. Namun yang paling penting adalah pengetahuan dasar tentang kesehatan mental itu sendiri yang jarang dibahas atau menjadi topik pembicaraan di setiap acara kumpul-kumpul atau diskusi di forum-forum kecil. Kesehatan mental sangat beragam , tentunya dalam tahap tertentu memerlukan ahli psikolog untuk menanggulanginya, atau psikiater, tergantung separah mana berakibat pada diri seseorang.

Melihat beberapa kasus kecil di ruang lingkup masyarakat perkampungan, khususnya kampung terdekat, sungguh sangat jarang sekali kalimat “kesehatan mental” itu muncul, apalagi didiskusikan, mengenal pun tidak. Ini menjadi PR besar bagi setiap mereka yang telah mengenalnya untuk menginformasikan lagi atau mensosialisasikannya ulang guna terbentuk masyarakat yang sejahtera dan damai di wilayah psikis dan mental. Dalam beberapa kasus di perkampungan, tentu tak semuanya, lebih sering kesehatan mental terganggu atau dalam hal seseorang mengalami trauma dan tekanan jiwa disebabkan dari pola asuh dan lingkungan di sekitarnya, baik itu keluarga maupun lingkungan masyarakat.

KELUARGA

Keluarga adalah lingkaran pertama, atau ruang hidup pertama yang membangun seseorang ,baik secara fisik, mental, dan pemikiran. Keluarga yang damai dan harmonis mampu membetuk karakter anak atau mereka yang di dalamnya penuh kehangatan, bahagia, dan optimis, berbeda dengan keluarga yang di dalamnya penuh tekanan, sifat saling mendominasi, tempramen, manipulative, dan lain sebagainya, tentunya akan menciptakan penjara atau neraka bagi mereka yang ada di dalamnya, dan sangat mungkin berdampak pada kesehatan mental dan jiwa, salah satunya adalah menciptakan trauma bersama yang mendalam dan memengaruhi setiap gerak, ucap , dan laku , mereka yang di dalamnya.

Pentingnya salah satu dari setiap keluarga mengenal tentang kesehatan mental dan kesadaran untuk menjaganya guna menciptakan ruang yang damai, harmonis dan penuh kehangatan. Tentunya itu tidak instan, perlunya dibangun dialog-dialog yang bertujuan untuk mengurai masalah mencari solusi dan alternative lainnya, serta sikap dan sifat sabar yang mesti dimiliki bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Keluarga menjadi ladang pertama munculnya benih depresi, frustrasi, anxiety , dan penyakit mental lainnya, sebab sebagian banyak waktu dihabiskan bersama keluarga dalam hal berkehidupan. Menjadi penting bagi setiap mereka yang di dalamnya untuk saling memerhatikan dari segi psikologis, karakter, dan kecenderungan sifat baik ketika tenang maupun terguncang.

Kultur masyarakat yang masih primitif, yang masih memegang erat pemikiran bahwa orang tua semisal dewa, tak pernah salah selalu benar, otoriter dan manipulative, harus senantiasa didengar dan anak selalu dalam posisi bersalah menyebabkan munculnya anak-anaka yang memiliki masalah dengan kesehatan mental, seperti depresi, frustrasi, dan lain sebagainya, dan tak jarang pula terjadi kasus bunuh diri atau anak menjadi susah diatur dan hidup amburadul tanpa arah dan pengarah.

Oran tua baiknya merasa sadar, mulai belajar untuk terbuka, mengakui kesalahan dan belajar mendengarkan dengan baik. Mendengar tentu berbeda dengan mendengarkan, seperti halnya berbeda antara menyarankan atau memberi pilihan dengan memaksa atau memerintah. Problem klasik yang berdampak besar dalam masyarakat.

MEMAHAMI

Di zaman yang serba canggih dan serba cepat ini, setiap orang mampu belajar dari mana pun untuk hal apa pun, jika pada zaman dahulu untuk belajar sungguh sulit sebab mengandalkan sekolah atau yang serupa itu, pencarian guru yang cocok, dan buku-buku masih mahal, tentunya berbeda dengan sekarang. Hal ini baiknya digunakan sebaik mungkin untuk belajar memahami dalam setiap hal, mengurangi menghakimi baik menghakimi diri sendiri apalagi orang lain, berhenti berprasangka, dan mulai belajar meredam setiap gejolak yang memungkinkan kea rah yang dapat menyakiti orang lain, baik menyakiti secara fisik maupun mental.

Guna memutus rantai traumatic dari setiap keluarga, umumnya mereka ( baca : orang tua) yang memilki sifat tempramen, hasrat kuasa yang begitu kuat, egois kuadrat, dan sifat manipulatif lainnya disebabkan oleh trauma masa lalu yang tersimpan di alam bawah sadarnya, dalam ilmu psikologis yang diusung Carl Jung, ingatan-ingatan manusia yang tersimpan di alam bawah sadarnya mampu menggerakan manusia di alam sadarnya, dalam tafsir lain adalah halhal yang berada di alam bawah sadara manusia mampu memengaruhi manusia dalam berpikir, bertindak, dan berperilaku.

Di sinilah pentingnya memahami diri, mengenal lebih dalam, memeriksa perasaan-perasaaan yang menyebabkan sifat di luar kendali, guna memutus rantai trauma, dan membentuk kehidupan baru yang lebih damai dan harmonis serta penuh kebijaksanaan.

Tak sampai di sana, tentu penting juga akan diskusi-diskusi santai dan ringan agar terjalin saling terbuka dan mengenal satu sama lain, bersama-sama mempelajari kecenderungan sifat dan watak manusia sehingga setiap dari kita memungkinkan untuk memiliki lebih banyak kantong-kantong kompromi dan perspektif.

KEMBALI

Sudah saatnya bagi kita untuk mengubah cara pandang yang kaku, guna menyembuhkan diri kita dari keterkungkungan oleh dogma dan doktrin, baik dari segi agama, budaya, dan lainnya. Sudah saatnya mengenal batas-batas kewajaran, keselarasan dalam hidup, dan kembali mempertanyakan dengan santai apa peran dalam hidup, dan akan ke mana langkah tertuju. Singkatnya, ingin dikenang sebagai apa kita dalam hidup dan kehidupan.

Menjadi wajar dan sederhana, bukan berarti hidup pasrah apa adanya.

Cikajang, 27 Oktober 2020

#menuliskanperjalanan # kesehatanmental #kopisangray

Selasa, 14 Desember 2021

REVOLUSI MEJA MAKAN ( coffee morning )

REVOLUSI MEJA MAKAN

 


Salah satu problem masyarakat kita saat ini yang sudah cukup mendarah daging adalah budaya konsumtif dan konsumerisme. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan , konsumtif adalah bersifat konsumsi ( hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri, atau bergantung pada hasil produksi pihak lain. Sedangkan konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan , kesenangan, dan sebagainya ; gaya hidup yang tidak hemat.

Ini cukup berdampak pada standar kesejahteraan masyarakat, dan perlahan mengikis habis budaya-budaya lama yang lebih menitikberatkan pada kesederhanaan dan kewajaran. Budaya konsumtif dan konsumerisme adaah salah satu effek atau dampak dari globalisasi dan perubahan zaman yang begitu cepat dan canggih, yang menawarkan beragam cara untuk pemenuhan keinginan manusia modern. Jika zaman dahulu orang menginginkan sesuatu, mereka harus menabung, lalu mencari informasi yang tak mudah, sehingga seringkali mengakibatkan seseorang berpikir kembali, menimbang-nimbang antara kebutuhan dan keinginan, ruang jeda memang cukup penting,

Tetapi di zaman yang serba mudah, cepat, dan mudah, orang bisa memiliki sebagian besar apa yang dimiliki masyarakat lainnya, semisal jika seseorang menginginkan sepeda motor, di zaman sekarang cukup datang ke dealer dengan uang muka yang cukup terjangkau, bahkan di beberapa dealer ada yang tak memakai uang muka, cukup dengan ktp dan kartu keluarga. Segala kemudahan disajikan guna menjaring masyarakat dalam pemenuhan keinginan mereka, dampaknya tentu kita bisa lihat sendiri, tak jarang sepeda motor yang dijemput kembali setelah beberapa bulan, tak jarang pula menggunakan tindak kekerasan dalam penjemputannya, sehingga menimbulkan masalah baru di tatanan masyarakat.

Pada dasarnya ini adalah sikap mental sebagian masyarakt kita yang belum siap dalam menghadapai perubahan zaman, sehingga seolah tergerus atau dipaksa berpacu dengan arus zaman yang makin membawa pada kesenjangan sosial.

MEJA MAKAN

Salah satu hal yang mungkin bisa cukup mengurai permasalahan tersebut adalah dengan revolusi meja makan, ya kita tahu bahwa sikap dan sifat manusia dipengaruhi oleh apa yang dimasukan ke dalam mulutnya, alias dipengaruhi oleh makanan, dalam hal ini kita belum berbicara soal sumber makanan.

Jika zaman dahulu kala, kita sudah terbiasa sarapan dengan umbi-umbian dan sedikit nasi setiap harinya, dan tak mengenal dengan makanan instant atau junkfood, tentunya berdampak pula terhadap sikap dan perilaku manusianya, selain dari itu juga kesederhanaan dalam hal makan yang seringkali diajarkan oleh orang tua- orang tua pada masa itu. Sifat dan sikap menghormati pada makanan, dan tak menyia-nyiakannya, itu tercermin dalam setiap proses pengolahan bahkan sampai proses makan. Budaya itu lambat laun kini lenyap menghilang dan di generasi muda yang sekarang bahkan cukup banyak yang tak mengenal leuit, goah, dulang, ngakeul,sangu poe, padairngan, dan lain sebagainya.

Ini cukup memprihatinkan , ketika identitas dari bangsa sendiri dalam hal mengolah/menghormati makanan sudah lenyap atau terkikis. Orang zaman dulu begitu rengkuh ketika memasuki goah untuk mengambil beras, kemudian berterima kasih pada Sang Maha Pemberi, ini tentunya bukan hanya persoalan agama, tetapi adab atau tata karma pada kehidupan, pada segenap yang mendukung kehidupan, artinya sejak awal kesadaran manusia zaman dulu sudah aktif dan terjaga.

seyogyanya memang manusia berkembang bersamaan dengan berkembangnya zaman, namun seringkali manusia lalai pada apa yang mesti dijaga dan dirawat, bukan hanya sebagai kekayaan budaya, tapi sebagai penyeimbang, bahwa dalam hidup ada masa lalu, masa kini, dan masa nanti, dan itu dibuktikan dengan budaya-budaya yang dijaga, atau beradaptasi dengan budaya baru. Namun yang terpenting adalah manusia tak lupa pada purwadaksina.

Kembali lagi pada budaya konsumtif dan konsumerisme di zaman sekarang,yang tentunya berdampak pada lingkungan dan pola hidup masyarakat, hal ini mungkin bisa dikendalikan dengan memeriksa kembali apa yang tersaji di meja makan, atau apa yang kita makan. Jika mungkin ada yang bisa ditukar dengan sesuatu yang organic dan mudah didapat, sudah sewajarnya kita kembali pada pola-pola masa lalu yang baik, tentunya sebagai penyeimbang kesejahteraan dalam berkehidupan. Yang tadinya kita biasa lebih sering membeli, mari coba menanam. Yang tadinya biasa instan, mari kembali menikmati proses. Tak ada jalan pintas untuk bahagia, kalau pun ada, tentu ada nilai tukar di baliknya.

 

Cikajang, 27 Oktober 2020 19:05

Noer Listanto Alfarizi

Sabtu, 18 September 2021

NGOPI DI SAUNG BACA KAPINIS

 NGOPI DI SAUNG BACA KAPINIS


Minggu pagi, cuaca cerah dengan matahari hangat dan angin lembut menerpa daun-daun bambu di kaki gunung cikuray, udara sejuk memenuhi pagi yang damai di sebuah pekampungan yang tenang dan menawarkan kesahajaan. percakapan-percakapan singkat namun berkesan, dialog-dialog ringan namun membawa ke dalam perenungan akan kehidupan.

jelang siang, di bawah matahari yang sesekali tertutup awan, kami kembali dipertemukan dalam waktu luang dan kerinduan akan ngopi bersama, ya, kang Kuswandi, salah satu budayawan Garut juga pegiat literasi yang aktif berkegiatan di Saung Baca Kapinis mengajak untuk obrol-obrol ringan tentang perjalanan secangkir kopi yang kami nikmati bersama, yakni Kopi Sangray, bagaimana asal mula, dan proses perjalanan dan harapan juga keteguhan untuk di masa depan.

video dibuat oleh kang Kuswandi yang diposting di akun youtube Saung Baca Kapinis

Cikajang, 2020
#menuliskanperjalanan #podcast #ngopibareng #kopisangray #secangkirkopi #nla #saungbacakapinis


Jumat, 04 Juni 2021

VARIAN RASA KOPI SANGRAY

 VARIAN KOPI SANGRAY

Semula kopi sangray hanya memproduksi  hasil kebun dataran tinggi cikajang, sehingga sudah pasti hanya menyediakan kopi jenis arabika dengan beragam varietas, dari mulai landing sari, sigagaruntang, lini s, ateng, dan  lain sebagainya. Seiring perkembangan eksistensi kopi, cukup banyak penikmat kopi sangray yang menanyakan varian lain dari kopi sangray, selain arabika Cikajang yang selama ini sudah cukup dikenal dan digemari.


Setelah bertahun-tahun menekuni pergulatan dunia perkopian, menikmati bercangkir-cangkir kopi, baik dari kebun kopi petani, maupun di café-café masa kini. Di tahun 2021 ini, kopi sangray melahirkan varian baru, yakni robusta sangray, dan blend arabika robusta sangray. Selain itu, juga ada natural yang eksistensinya sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, namun produksinya masih minim, di tahun ini pun, untuk natural makin diupayakan lagi stok yang tersedianya.

ARABIKA “SANGRAY” ORIGINAL

Kopi arabika yang diproses dan diolah dengan tradisional, dipetik dari kebun kopi Ma Okon dari dataran tinggi Ngamplang, Cikajang, Garut, dengan ketinggian sekira 1237mdpl, disangray dengan cara tradisional dengan mengupayakan profile roasting medium sampai medium to dark, dengan greenbean proses pasca panen fullwash. Tersedia dalam bentuk bubuk kasar, bubuk halus (dipesan terlebih dahulu) dan roastbean. Dalam hal rasa, dengan hasil sangray medium sampai medium to dark, mengupayakan rasa asam yang tidak terlalu dominan, mengingat cukup banyak penikmat kopi yang masih rindu akan manisnya gula, ditambah lagi eksistensi rasa pahit yang tak menghilangkan rasa-rasa lainnya ketika kopi diseruput.

 

ARABIKA “SANGRAY” NATURAL

Ya, bagi penikmat kopi yang serius, kopi natural semacam kopi idaman, sebab kekayaan rasa yang dimilikinya, beberapa ada yang bilang kangen dengan rasa manis fruity atau buah-buahan ditambah  harum yang khas , sebab dalam proses pasca panennya tidak ada proses pengupasan kulit buah, setelah buah kopi dipetik, dibersihkan , kemudian dijemur sampai kering dan kemudian ditumbuk. Proses yang berlangsung cukup lama, dan memerlukan sinar matahari yang stabil sebab dalam kelembaban tertentu buah kopi rawan berjamur dan tentu saja sangat berdampak terhadap rasa yang dihasilkan. Pada proses penyangrayannya, pada umumnya kami mengupayakan hasil sangrayan medium, untuk menjaga harum kopi juga memunculkan rasa yang unik sebagaimana ciri khas proses natural



ROBUSTA “SANGRAY”


Untuk pertama kalinya di tahun 2021 Robusta Sangray diseriuskan untuk diproduksi, setelah mencari beberapa jenis kopi robusta yang memungkinkan untuk diproduksi sebab berkenaan dengan kualitas dari rasa, dan juga lokasi tumbuhnya pohon kopi robusta itu sendiri, mengingat kopi sangray hanya fokus memproduksi hasil kopi dari daerah Garut. Diharapkan robusta sangray mampu menjawab kerinduan penikmat kopi robusta, khususnya dalam hal rasa, semoga nikmat dan bersahabat.






BLEND AR “ SANGRAY “

Blend AR artinya Arabika Robusta, ya, varian terbaru dari kopi sangray ini mencampurkan dua jenis kopi dengan perbandingan 30:70 , kopi arabika 30% dan kopi robusta 70%, dengan hasil sangray medium sampai medium to dark, diupayakan untuk menghasilkan rasa yang baru yang unik bagi para penikmat kopi.

 



****

Ya, sementara ini kopi sangray memiliki 4 varian , ARABIKA “SANGRAY “ ORIGINAL, ARABIKA “SANGRAY” NATURAL, ROBUSTA “SANGRAY”, BLEND AR “SANGRAY”. Dengan harga yang variatif dan terjangkau, harapan besar kopi sangray bisa dinikmati semua kalangan, menjadi primadona bagi penikmat kopi, dan tetap dinanti serta direguk dinikmati, baik ketika sendiri, ketika berdiskusi, atau sekadar mencari inspirasi.

Terima kasih yang sebesar-besarnya dari kami, atas kesetiaan membeli dan menikmati produk anak negri, semoga kesejahteraan yang berlimpah bisa kita capai dengan saling mendukung satu sama lain.



















Kopi Sangray

Minggu, 04 Oktober 2020

EPISODE PERJALANAN SECANGKIR KOPI #1

PETIK MERAH

 




ya, ketika masa awal panen kopi, hal yang cukup sulit adalah memilih kopi yang merah matang, sebab di awal masa panen hanya beberapa biji-biji kopi yang benar-benar matang.

 

hijau, hijau-kuning, kuning, kuning-merah, merah, merah matang.

 

hal tersebut juga yang membuat sebagian besar petani memilih cara panen kopi bukan dengan petik merah, melainkan campur.

 

tahun 2015 pernah sosialisasi dan mengajak beberapa petani untuk petik merah, namun cukup susah, karena kebutuhan dapur ngebul lebih penting.

 

"hese atuh hayang beureum kabeh mh, da ti baheula ge ngala kopi mah dirad (tanpa dipilih), " ucap Ema sekira tahun 2015an

 

waktu berjalan, ketika masa panen saya sering metik sendiri, dan tak jarang pula Ema bertanya, juga begitu bahagia melihat warna merah biji kopi yang matang.

lambat laun Ema juga memetik kopi yang sudah matang.

 

"keur inumeun mah kudu nu alus, meh ngeunah karasana," ucap Ema waktu itu

 

hingga kini, alhamdulillah pohon kopi mulai memasukinya masa panen yang padat, nyaris tiap hari kami memetik kopi.

 

sebelum berangkat ke kebun, biasanya kami menikmati secangkir kopi yang sudah diolah, menikmati hasil keringat dan perjuangan, menikmati penantian yang cukup panjang, menikmati doadoa yang diucap diam-diam..

 

Cikajang, 27062020

#menuliskanperjalanan

#episodekampung halaman

#nla #kopisangray

Selasa, 29 September 2020

Kopi Sangray di Pameran Seni

 Contemporary art need water, fire, and coffee

 

Sebuah narasi menggelitik dari seniman street-art Iwan Ismael ketika ngobrol ringan di sela jeda rehat persiapan pameran tunggalnya di rumah prosesnya Rudi St Darma alias kang Uday di Jl Mutumanikam, Buah Batu, Bandung. Obrolan santai namun serius itu bermula ketika kami berbincang tentang #kopibakarkopi yang bersalin nama jadi #tungkubromvit kemudian kini menjadi #captungkubromvit. Ya, akhir-akhir ini Mael, sapaan akrab beberapa kawan seniman lainnya, seringkali mengadakan seduh kopi gratis sambil demonstrasi cara penyajian kopinya, ada yang menarik dari cara penyajiannya, yakni dengan tungku yang bisa dilipat, dan dengan api yang dihasilkan dari bubuk kopi yang dikeringkan lalu dijadikan serupa kayu bakar. Di atas tungku unik itu, kopi dididihkan langsung, bukan diseduh. Di beberapa daerah di Indonesia pun banyak teknik-teknik penyajian kopi yang khas dan unik, tentunya di sini Mael yang juga bos #kampretsyndicate merespon seni yang sedang booming di kalangan generasi muda, yakni seni penyajian kopi dan kopi itu sendiri.

( poster pameran Iwan Ismael )

 

Balik lagi ke judul, kalau ditelaah lebih dalam, lalu kemudian kita kerucutkan, bahwa gagasan-gagasan seni komteporer memang seringkali hadir dari saripati “water, fire, and coffee”. Tentu saja hasil dari kontemplasi, introspeksi, diskusi yang berkala dan terarah dari para pelaku seni itu sendiri.

( Iwan Ismael tengah diwawancara oleh beberapa wartawan)

Water

Pada sebuah bincang-bincang singkat dengan Iwan Ismael ketika ditanya perihal konsep dalam pameran tersebut , ” Aku nggak pernah bikin konsep apapun, ini mengalir saja. Aku menemukan hal unik dalam perjalanan, aku naikkan jadi stensil, awalnya seru-seruan saja, tapi ketika dikumpulkan ternyata lumayan banyak juga,” ucap Iwan Ismael sambil tertawa.

 

Mael juga bilang bahwa mereka yang menjadi model stensilnya kebanyakan oranng biasa, “aku biasanya ketemu, lalu aku kira menarik dan merasa tertarik, biasanya aku ajak ngobrol ngopi-ngopi, lalu aku tawarkan untuk jadi model buat stensil, kalau ya, aku agendain lagi untuk pengambilan gambar,” tuturnya.

 

( melihat proses dalam berkarya )

 

Ketika ditanya sudah berapa banyak stensil yang dihasilkan, Iwan menjawab tidak tau, sebab selama ini tak pernah menghitung, menikmati proses dan terus berjalan dengan bersenang-senang.

( foto H-1 Pameran Iwan Ismael )

Fire

Teringat sebuah ungkapan dari seseorang bahwa “ api kecil adalah sahabat, api besar tanda bahaya”, barangkali itulah yang terjadi pada keseharian Iwan Ismael, begitu bersahabat dengan api kecil, ya kita bisa saja menafsirkan api kecil itu sebuah korek yang membakar sebatang rokok, menghasilkan kepulan-kepulan gagasan abstrak yang nantinya dikembangkan menjadi sebuah karya yang ciamik dan menakjubkan. Atau juga boleh jadi api di sini adalah semangat yang tak pernah padam, yang menjadi penerang jalan, melenyapkan dinginnya gagasan-gagasan di musim berkesenian, tentunya setiap orang punya interpretasi sendiri soal itu,

 

( Noer Listanto Alfarizi, menyiapkan api sebelum pameran dimulai )

 

Coffee

Barangkali ini hal yang cukup menarik dalam pameran Iwan ini, menghadirkan sumber dari mana inspirasi itu berawal sekaligus menjadi penyambung lidah makna antara karya dan pengapresiasi. Kopi, ya, dalam pamerannya kali ini, Iwan menghadirkan stan kopi tepat di tengah-tengah pamerannya, membawa tiga tungku ciptaannya, juga merekrut seorang penyeduh kopi untuk mendemostrasikan temuan #kopibakarkopi dan #captungkubromvit. Street art, ya jalanan memang tak pernah lepas dari imej nongkrong-nongkrong, kepulan asap, dan bercangkir-cangkir kopi. Ketika masuk ke ruang pameran, saya kira atmosfirnya serasa berada di belahan bumi mana, aroma kopi menguar, mengharumi ruang pameran yang penuh dengan mural, stensilart, dan perbincangan-perbincangan di antara pengunjung yang datang. Tersedia bercangkir-cangkir free-coffee yang langsung disajikan dengan teknik yang unik.


( suasana di pembukaan pameran seni Iwan Ismael, Kopi Sangray hadir )

Pada pameran kali ini Iwan Ismael bekerja sama juga dengan Kopi sangray (@kopisangray ) untuk penyajian kopinya, dengan penyeduhnya Noer Listanto Alfarizi, yang tak lain adalah salah satu teman ngopi-ngopinya.

 

     

( Noer Listanto Alfarizi, sedang menyiapkan kopi buat pengunjung )

Pameran kali ini cukup ramai dan penuh perbincangan, diskusi-diskusi ringan dan serius hadir dalam beberapa kelompok, hadir juga beberapa wartawan yang meliput, pameran yang digelar selama seminggu itu cukup menyedot masyarakat kota Bandung khususnya untuk mengapresiasi karya dan pelaku seni, tak sedikit pula dari luar kota yang menyengaja datang penuh apresiasi atau bahkan merencanakan pameran serupa di kota-kota mereka.


Contemporary art need water, fire, and coffe.

Semoga dunia kesenian Indonesia terus berkembang dan para pelaku seni tetap eksis dan sejahtera di tengah arus globalisai dan teknologi yang kian pesat.

                       

( H-2 proses persiapan pameran )

( dua sejoli asik berpacaran sambil menikmati kopi dan karya seni  )

Tetap ngopi dan semangat

Bravo !

20182020

#menuliskanperjalanan #kopisangray





Minggu, 24 November 2019

NGOPI BARENG KOPI SANGRAY

Dapur-Incu sebagai ruang temu gagasan dan kepedulian





dapur sebagai ruang kebudayaan di mana lahirnya gagasan-gagasan, bertuturnya kisah perjalanan, cinta dan kepedulian, dan tempat ngumpul-ngumpul santai sembari menikmati kopi, teh, dan kudapan lainnya.

tak jauh beda dengan dapur-incu, ruang produksi kopisangray ini seringkali dikunjungi kawan-kawan penikmat kopi, selain berkunjung untuk membeli kopi, mencicip, namun sering juga digunakan sebagai ruang diskusi, pertukaran pemikiran dan gagasan, di mana hal semacam itu sudah cukup sulit ditemukan, khususnya di wilayah perkampungan.
Pembentukan pola pikir, kesadaran pikiran dan kesadaran hati yang mengarah pada kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, dan kehidupan, serta makhluk lainnya, dalam hal ini lingkungan terdekat.




beberapa kawan yang sempat menyengaja hadir ,salah satunya Kang Lutfi Suherlan dari ketua Paguyuban Pencak Silat Cahaya Gagak Panglipur Leuwigoong, seringkali mengadakan diskusi-diskusi kecil semacam membicarakan gagasangagasan atau pun agenda kegiatan, kawan lainnya adalah Kang Mardhani sesepuh dari BPK Oi Depok yang sekarang menjabat di BPW Oi Jawa Barat , beliau-beliau adalah  guru sekaligus penasehat dalam perjalanan kopisangray.

Zaman yang begitu cepat berlari, memicu manusia untuk mengikutinya, dapur incu menjadi ruang di mana samasama belajar duduk tenang, sembari ngopi dan menghangatkan badan di depan perapian, mengunjungi tawatawa masa muda, memandang masa depan dengan kepercayaan, dan menginsafi masa lalu sebagai sebuah kekayaan dalam bentuk pengalaman.

Zaman dahulu, konon dapur menjadi ruang paling intim, selain sebagai ruang meditasi juga sbg ruang di mana makanan dibentuk dengan falsafah yang membentuk perilaku manusianya dengan baik.

sebentar, ini terlalu ke mana-mana pembicaraannya.

yang jelas, dalam beberapa tahun terakhir dapurincu yang menjadi ruang produksi kopisangray, telah menjadi ruang pertemuan gagasan dan kepedulian, menjadi tempat bersilaturahmi penikmat kopi maupun teh, dan tempat di mana keluh kesah diubah menjadi sebuah jalan yang dinamakan penerimaan.





Mudahmudahan ke depannya dapur incu bisa menjadi lebih besar, dengan memiliki perpustakaan dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan pemikiran, juga menumbuhkan kesadaran berpikir dan kesadaran hati dalam menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan. Aamiin


Terima kasih untuk segalasegalagalanya
☕☕
senantiasa sehat ,berkah, bahagia dan penuh ketenangan

Selasa, 20 Agustus 2019

PERSEMBAHAN


PERSEMBAHAN

tak ada yang benar-benar
mesti diceritakan
segalanya tumbuh tak tergesa
melaju dengan kecepatan waktu

seperti biji-biji kopi di halaman rumah,
bunga-bunga putih merekah
biji-biji kopi mulai resah
hijau, hijau kuning, kuning
kuning merah, merah
merah matang

ranum
harum tercium

bersama do'a-do'a sunyi
ia tumbuh
seperti pengembaraan, mencari arah pulang
biji-biji kopi ditempa
dibiarkan menyerap hangat semangat matahari
lalu pasrah menuju sebuah persembahan

secangkir getir dengan pekat do'a
rahim inspirasi
di mana lahir cerita dan puisi

atas nama persembahan
atas nama cinta dan kerinduan
dalam sunyi
perjalanan secangkir kopi

2019
video by @abdussalam
for @kopisangray

#kopi #kopisangray #meracau #puisi #catatan #perjalanan #menuliskanperjalanan #nla

Perjalanan Kopi Sangray


Kopi Sangray lolos dari kurasi deureuham dan ikut serta dalam penjurian deureuham di kota Bandung bersama 32 peserta lainnya .

Juli, 2019

Kamis, 24 Mei 2018

PROFIL KOPI SANGRAY

Kopi Sangray , A Classic Taste

kopi arabika yang dipetik dari kebun kopi dataran tinggi Garut Selatan, tepatnya daerah Ngamplang-Cikajang, dengan ketinggian lebih dari 1200 mdpl. Diproses secara tradisional dan pastinya petik merah/matang.
produk UKM yang diolah langsung oleh petani kopinya sendiri.

sementara baru menyediakan olahan pasca-panen fullwash , disangray secara manual dan tradisional dengan profile roasting antara medium sampai medium to dark, menawarkan rasa yang khas dan unik, pas untuk dinikmati bersama keluarga, kawan-kawan, atau pun sendirian.

Kopi Sangray menyediakan roastbean dan bubuk (giling kasar), cocok untuk kopi tubruk, bisa juga untuk penyajian V60, Vietnam drip atau Moka pot, dll.

sementara baru produksi kopi arabika, dengan berbagai kemasan, tentunya dengan harga bersahabat. Berikut daftar harga @kopisangray

- @kopisangray isi 100gram : 35rb
- @kopisangray isi 250gram : 75rb
- @kopisangray isi 500gram : 150rb

untuk pembelian minimal 1Kg, mendapatkan harga khusus.

untuk pemesanan bisa ke :
(WA) : 0896-5728-3772,
Instagram : @kopisangray
Facebook : Kopisangray
Web : http://kopisangray.blogspot.com
atau kalau memungkinkan bisa juga datang langsung ke tempat produksinya, di "Dapur-Incu" , Ngamplang-Cikajang, Garut.
Pemasaran/kirim-kirim dilakukan dari Kota Bandung.

PERSEMBAHAN

PERSEMBAHAN DARI KOPI SANGRAY

PERSEMBAHAN Tak ada yang benar-benar mesti diceritakan segalanya tumbuh tak tergesa melaju dengan kecepatan waktu seperti biji-biji kopi di ...

Kopi Sangray

Kopi Sangray

menjadi petani kopi

menjadi petani kopi